Kamis, 13 Juni 2013

Definisi Gila dan Normal


Gila bukanlah kata yang asing di telinga kita. Gila itu berarti berbeda dengan yang lain. Gila itu tidak salah, karena si pengidap gila itu sendiri sebenarnya merasa bahwa kegilaan yang ia alami adalah sesuatu yang menurutnya normal. Gila menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah sakit ingatan, sakit jiwa (sarafnya terganggu atau pikirannya tidak normal). Topik pembicaraan ini mungkin jarang ditemui, tapi apa sebenarnya definisi dari 'gila' atau 'sakit jiwa'? 

Jika ditanya seperti itu, kebanyakan orang mungkin akan menjawab bahwa orang dicap gila atau sakit jiwa apabila ia berperilaku atau bertingkah tidak sesuai dengan masyarakat tempat ia berada. Akan tetapi, kemudian akan muncul pertanyaan baru lagi, yaitu apakah masyarakat itu bisa dibilang 'sehat akal' atau tidak gila? Bagi orang gila, masyarakat itu gila karena tidak sesuai dengan perilaku yang ia anggap 'sehat', namun bagi masyarakat, orang itu gila karena tidak sesuai dengan perilaku 'sehat' ala masyarakat. Jadi, sebenarnya orang dianggap gila itu karena apa? 

Menurut Albert Einstein, definisi kegilaan adalah mengharapkan hasil yang berbeda tetapi melakukan hal yang sama berulang-ulang (http://akinini.com/keyakinan/kegilaan-adalah-melakukan-hal-yang-sama-dan-mengharapkan-albert-einstein/391). Dalam buku 'Veronika Memutuskan Mati', Paulo Coelho menuliskan tentang Zedka, salah seorang tokoh yang mendeskripsikan tentang arti gila yang sebenarnya. 

"Di sisi lain ada Einstein yang mengatakan bahwa tidak ada waktu atau ruang, yang ada hanya kombinasi keduanya. Atau Columbus yang bersikukuh bahwa di sisi lain dunia terdapat benua, bukan jurang. Atau Edmund Hillary, yang yakin bahwa manusia bisa sampai ke puncak Everest. Atau the Beatles, yang menciptakan jenis musik yang sama sekali lain dan berpakaian seperti manusia dari masa yang berbeda. Orang-orang seperti itu - dan masih ada ribuan lagi - semuanya hidup dalam dunia mereka sendiri." (Zedka dari buku Veronika Memutuskan Mati oleh Paulo Coelho) 

Dari kutipan yang dikemukakan oleh Zedka, dapat ditarik kesimpulan bahwa orang gila adalah orang-orang yang hidup dalam dunianya sendiri. Namun, itu saja rasanya belum cukup untuk menjelaskan tentang gila yang begitu luas. 

Lalu, kenapa juga ada orang yang disebut normal? Dari mana kita bisa menilai orang itu normal atau tidak normal hanya dari tingkah lakunya?  

Masalah normal atau tidak ini hanyalah masalah pengaruh. Jika seseorang yang dianggap 'gila' itu bisa mempengaruhi orang-orang 'normal' di sekelilingnya, yang mana mereka juga ikut terpengaruh oleh si 'gila', maka orang-orang 'normal' tadi akan berubah menjadi 'gila' dan si orang 'gila' akan dianggap 'normal'. Dan jika hal ini berlangsung dalam ruang lingkup yang luas, maka orang-orang yang 'normal berubah gila' tersebut akan tetap mempertahankan 'kegilaan' mereka sebagai sesuatu yang 'normal' dan pada akhirnya akan meraih takhta kerajaan gila, kemudian segelintir orang lain yang tetap mempertahakan 'kenormalan' mereka di hadapan orang tadi justru dianggap gila. Nah, pada akhirnya akan menjadi terbalik. 

Sehingga, kita pun mulai berpikir, sebenarnya aku ini gila atau tidak, ya? Kita tidak bisa langsung menilai diri kita sendiri apakah kita gila atau normal, karena pada kasus saling pengaruh mempengaruhi, manusia yang normal bisa dianggap gila, dan yang gila bisa dianggap normal. Apakah kelompok itu gila atau tidak bisa saja termasuk faktor jumlah kelompok. Semakin banyak orang yang 'gila dianggap normal', maka semakin banyak juga orang yang terlindas oleh predikat 'normal dianggap gila'. 

Setiap orang pasti memiliki sisi 'gila' masing-masing, dan sisi 'gila' itu akan dianggap 'normal' oleh masyarakat saat 'kegilaan' itu merupakan sebuah inovasi di sebuah dunia yang dinamis dan mampu untuk mempengaruhi dan menguasai sebuah takhta bernama takhta 'gila menjadi normal'. 

Semua orang itu 'gila' karena mereka memiliki perbedaan ide dan cara-cara dalam sebuah proses untuk membuktikan eksistensi mereka di roda kehidupan yang dinamis dan terus berputar. Pada akhirnya, 'kegilaan' itu sendiri akan berubah menjadi sesuatu yang 'normal'. Namun, dengan 'kegilaan' itulah hidup ini akan menjadi dinamis dan tidak statis.

What do you think? :)

Best Regards,
Mistress Vanya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar